Lewati ke konten →

Menggugat Pengakuan Kita sebagai Pecinta Kucing

Kisah Odeet dan Kucing Korban Cat Abuse

Tersebutlah kucing bernama Odeet. Bulunya putih, parasnya cantik. Kecantikannya mirip Princess Odette, tokoh animasi garapan Disney. Tentu saja, bagi pecinta kucing, si Odeet lebih lucu dan menggemaskan. Odeet cukup ceria ketika diajak bermain oleh pemiliknya. Walaupun hobinya tidur dan merebahkan diri, sesekali ia tak segan berlari ke sana ke mari, loncat sana loncat sini.

Tak ada yang menyangka bahwa di balik mata birunya, tersimpan sebuah kisah kelam. Odeet pernah menjadi objek kekerasan manusia. Odeet ditelantarkan di pinggir jalan dengan kondisi yang sangat memilukan. Kurus dan penuh luka. Di sekujur tubuhnya juga ditemukan bekas siraman air panas. Bulunya rontok, dipenuhi scabies dan kutu yang sepertinya sudah menjadi rekan setia. Bau tak sedap yang keluar dari tubuhnya membuat orang enggan untuk menoleh kepadanya, apalagi menyentuhnya.

Beruntung, Odeet ditemukan oleh Valentina Dewi atau yang akrab dipanggil teman-temannya dengan sebutan Mamak. Mamak menemukannya di dekat kantor Polda Jogjakarta, sekitar tiga tahun lalu. Butuh waktu delapan bulan bagi Mamak untuk memulihkan kondisi Odeet. Hal yang disayangkan Mamak dari Odeet cuma satu, Odeet tidak pernah tahu nama yang diberikan Mamak kepadanya. Odeet tuli.

Odeet tak sendiri. Di rumah Mamak, Odeet tinggal bersama puluhan kucing lain yang pernah menjadi korban kekerasan pemilik mereka sebelumnya. Ada Mbak Muss, kucing lumpuh berkaki tiga. Mbak Muss ditemukan Mamak dengan kondisi kaki yang sudah membusuk dan tulang punggung yang ditembus proyektil peluru. Ada juga Ammee, kucing ras persian yang dibuang pemiliknya karena sudah bosan. Ekornya terluka parah karena digigit anjing, peliharaan baru tuannya.

Benarkah pengakuan cinta kita?

Ada ratusan, bahkan mungkin ribuan kucing yang mengalami kasus serupa. Mereka disiksa ataupun terlantar begitu saja. Mereka ada di sekitar kita, kalau kita tak menutup mata. Pertanyaannya, seberapa besar kepedulian kita? Benarkah pengakuan cinta kita?

Mencintai kucing bukan sekadar pengakuan tanpa ada pembuktian. Memelihara kucing bukan sekadar mengikuti trend tanpa tahu cara perawatan. Menjual kucing bukan sekadar bisnis komoditas yang hanya memikirkan keuntungan.

Sebagai pecinta, kita tak layak memperlakukan kucing dome dan kucing ras dengan cara yang berbeda. Sebagai pemelihara, kita tidak bisa menelantarkan kucing-kucing hanya karena bosan, repot, ataupun kekurangan biaya. Sebagai pengusaha, kita tidak bisa membuang begitu saja kucing-kucing yang tak sempurna.

Kucing, entah itu domestik yang ditemukan di pinggir jalan maupun ras pedigree berharga puluhan juta, adalah makhluk hidup. Mereka berhak untuk mendapat perlakuan yang layak dari kita, makhluk Tuhan yang diberi kelebihan akal dan rasa. Setiap kucing berhak hidup sehat dan diliputi cinta. Kucing bukan untuk ditelantarkan dan disiksa.

Memelihara kucing bukan perkara jangka pendek, melainkan perkara seumur hidup. Pertanyaanya, siapkah kita memberikan waktu, uang, dan kesabaran untuk mengurusnya? Inilah yang sering tidak dipahami oleh para pemelihara. Ketika merasa bosan atau tidak sanggup, mereka pun menelantarkannya.

Komitmen, itulah kuncinya. Jika tak memiliki komitmen, buang saja jauh-jauh niat untuk menjadi pemelihara. Selain komitmen individu, komitmen keluarga juga penting. Bayangkan bagaimana seandainya keluarga tidak setuju jika kita memelihara kucing. Bukannya bersenang-senang, kita malah pusing.

Tulisan ini tidak menuntut kita untuk menjadi pecinta kucing seperti Mamak yang mampu menampung kucing-kucing terlantar dan cacat. Setidaknya, kita peduli dengan kucing yang kita rawat dan juga kucing-kucing jalanan yang ada di sekitar kita. Tak ada alasan bagi kita untuk menyiksa, menelantarkan, atau bahkan membunuhnya.

Odeet memang tuli, tetapi dia bisa mendengar dengan hati. Mendengar ungkapan tulus dari orang-orang yang peduli, orang-orang yang mencintai.

(Ditulis untuk Majalah Catlovers edisi Oktober 2016)

Published in Celoteh Pribadi

Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *