Lewati ke konten →

Kategori: Prosodi Hati

Sekadar rasa dalam hati yang dibangun dalam prosodi

Ngomong Sama Kaca

Seringkali kita tahu apa dan mana jalan kebenaran, hanya saja kita merasa berat untuk menapakinya. Seringkali, kita bermaksiat dalam sepi, lupa bahwa ada Rabb yang Maha Melihat dan 2 malaikat yang mencatat. Seringkali, kita sibuk dengan aib dan kesalahan saudara-saudara kita, tetapi lupa dengan aib dan kesalahan diri yang lebih melegamkan hati. Seringkali, kita berharap kesempurnaan saat mencari calon pasangan hidup, tetapi lupa kadar diri sendiri. Seringkali kita berkata, “SUATU…

Lanjut baca Ngomong Sama Kaca

2 Comments

Merdeka!

Aku bilang cinta
Aku bilang merdeka
Namun ketika mereka bertanya
aku tak tahu arti keduanya

Aku berani mati untuk agama dan negara
Dusta!
Hakikatnya aku hanya seonggok manusia
yang cuma pandai beretorika

Lanjut baca Merdeka!

Leave a Comment

ما أضعف نفسي

«ما أضعف نفسي» ما أضعف نفسي                      قد شعرت بشديد العشق إليك إنّ الماضي يستقرّ في قلبي              فلا أستطيع أن أنساك          حاولت أن أكون رجلاً لا مبالي      بل جرح قلبي إذا سمعت حالك          ما أضعف نفسي                     أرجو الله أن يغفرني ويحفظك   جاكرتا، 24-07-2012 الفقير إلى مغفرة ربّه، أحمد فائق (Sekedar prosodi-prosodian, tidak perlu dikaitkan dengan ilmu ‘arudh dan qawafi. Kemampuan bahasa Arab saya juga…

Lanjut baca ما أضعف نفسي

2 Comments

Bait Syair yang Membuat Al-Imâm Ahmad -rahimahullâh- Menangis

Dikisahkan, ada seseorang yang mendatangi Al-Imâm Ahmad dan bertanya kepada beliau, “Wahai Imam, apa pendapat Anda tentang syair ini?” Beliau menjawab, “Syair apakah ini?” Kemudian orang tersebut membaca syair berikut, إذا ما قال لي ربي اما استحييت تعصيني Jika Rabb-ku berkata kepadaku, “Apakah engkau tidak malu bermaksiat kepada-Ku?” وتخفي الذنب عن خلقي وبالعصيان تأتيني Engkau menutupi dosamu dari makhluk-Ku, tetapi dengan kemaksiatan engkau mendatangi-Ku. فكيف أجيبُ يا ويحي ومن ذا…

Lanjut baca Bait Syair yang Membuat Al-Imâm Ahmad -rahimahullâh- Menangis

Leave a Comment

Alunan Kata

“Tak mesti jadi pujangga tuk merangkai kata. Konstelasi emosi kan indah dalam alunan sastra” (Pekalongan, 23 Juli 2010) Pada postingan kali ini, saya cuma mau membagi beberapa konstelasi emosi saya yang terbingkai dalam alunan kata. Tak pantas disebut puisi, pun jelmaan prosodi. Hanya kata singkat yang mengandung secuil makna. Apa yang tersaji merupakan kumpulan tulisan-tulisan singkat sejak beberapa bulan yang lalu, kebanyakan adalah status di fb, notes, ataupun tulisan yang…

Lanjut baca Alunan Kata

2 Comments

Tersenyumlah!

Saat kejenuhan muncul di benak (karena buntunya penulisan ******) dan kesedihan melanda hati (karena nasib saudara-saudara kita di kawasan Merapi),  aku teringat pada secarik kertas yang diberikan oleh seorang kawan seperjuangan. Perlahan kubaca, disertai kerlingan dahi karena (bagiku) tak mudah mengartikan dan memahaminya. Namun, ketika selesai kutelaah, semilir angin semangat nan segar mulai berhembus, harumnya motivasi baru pun mulai meyerbak. Bukan, Ini bukanlah soal cinta kawan, melainkan lantunan kata pembangkit…

Lanjut baca Tersenyumlah!

4 Comments

Malu!

Aku malu! malu atas beribu dosaku maksiat tlah jadi laku mulut tak pernah bisu, mengumbar kata tabu. Aku malu! malu atas kemalasanku alih-alih baca buku sekedar menyapa ilmu, pun aku tak mau. Aku malu! malu atas kesombonganku untaian nasehat hanya angin lalu secuil pujian s’lalu kutunggu, bak seorang maha guru. Aku malu! malu atas rasaku rasa cinta nan syahdu dibalut rindu menggebu pada dia, bukan pada-Mu. Aku malu! malu kepada…

Lanjut baca Malu!

Leave a Comment

Bangkitlah, Kasih!

  Kasih, mungkin kau bersedih saat mentari terbenam tapi ingatlah, dunia tak selalu malam esok kan kau dengar taluan kokok ayam menjemputmu dari asa kelam. Kasih, mungkin kau gentar saat melihat jeram tapi percayalah, tak semua sungai dalam jangan biarkan rakit kehidupanmu karam angkatlah kembali semangatmu yang tenggelam. Kasih, yakinlah, hitam tak selamanya mencekam kubuktikan, tanpa arang api kan padam maka tak guna kau muram. Bangkitlah! Arungi samudera rahmat Rabb…

Lanjut baca Bangkitlah, Kasih!

Leave a Comment

Duhai Meruginya!

Duhai meruginya engkau Ketika Agama diperjualbelikan Ketika Aqidah diremehkan Ketika Sunnah dicampakkan Duhai meruginya engkau Ketika ‘Ilmu ditinggalkan Ketika secercah Nasehat dan Hujjah diacuhkan Ketika ‘Ulama dihinakan Duhai meruginya engkau Ketika Bid’ah dibenarkan Ketika pelbagai Kebatilan disatukan Ketika helaian Lihyah dihilangkan Duhai meruginya engkau Ketika Demokrasi dihalalkan Ketika semangat Kebangsaan digaungkan Ketika ‘suara’ manusia dituhankan Demi segelintir Simpatisan Demi sebuah Jabatan Demi seonggok Kekuasaan Dan Betapa Meruginya engkau Ketika pertolongan…

Lanjut baca Duhai Meruginya!

Leave a Comment