Lewati ke konten →

Branding Editor, Penerbit, dan Penulis di Media Sosial

26-27 Oktober 2016, IKAPI Jakarta mengadakan pelatihan yang —tentu saja— ditujukan untuk para pelaku usaha di bidang penerbitan. Pelatihan yang diselenggarakan selama dua hari di MaxOne Hotel Rawamangun tersebut mengusung tema “Peran Editor di Era Digital”. Judulnya memang hanya mengangkat peran editor. Namun, pembahasan dalam pelatihan tersebut meliputi pula sisi penerbit dan penulis.

Pada hari pertama, pelatihan diisi oleh Indah Julianti (pegiat media sosial dan pendiri komunitas Emak-Emak Bloger) dan Benny Ramdhani (manajer produksi Mizan). Keduanya menekankan pentingnya memanfaatkan media sosial sebagai wahana branding, baik self branding editor, penerbit, maupun penulis.

Menurut mereka, editor sangat perlu memanfaatkan media sosial. Tujuannya, pertama, untuk mengamati tren dan mencari inspirasi. Oleh karena itu, waktu kerja editor memang sebagiannya diisi dengan berselancar di media sosial, baik twitter, facebook, instagram, maupun blog (kita samakan persepsi bahwa blog adalah bagian dari media sosial). Tujuan pertama ini sudah banyak dipraktikkan dengan baik oleh sebagian editor. Banyak penulis yang “ditemukan” oleh penerbit karena aktivitasnya di media sosial. Contoh paling nyata adalah Raditya Dika dan Alit Susanto yang ditemukan oleh kawan-kawan editor Gagasmedia. Penulis dan naskah “instan” juga semakin mudah ditemukan setelah adanya aplikasi Wattpad.

Adapun tujuan kedua pemanfaatan media sosial bagi editor adalah untuk mem-branding dirinya. Editor perlu men-share kegiatannya sebagai editor di media sosial: menulis di blog, mem-publish hasil karyanya, dan sebagainya. Beberapa editor di Mizan dan Gagasmedia mempunyai follower hingga ribuan. Mereka dekat dengan pembacanya dan benar-benar dikenal sebagai editor. Jaringan mereka pun bertambah banyak. Dengan demikian, mereka pun lebih mudah untuk mendapatkan naskah. Bahkan, penulis dengan sendirinya menawarkan naskah kepada mereka.

Selain oleh editor, branding di media sosial juga diperlukan oleh penerbit. Penerbit mesti menggaet pembacanya secara aktif di media sosial. Aktif di sini bukan berarti sekadar share tweet ataupun status FB satu arah, melainkan mesti berinteraksi dengan follower-nya. Penerbit tidak bisa hanya men-share buku baru yang diterbitkan, tetapi juga harus ada memperlakukan follower-nya dengan baik. Misalnya, berbagi hadiah dengan mengadakan kuis, kultwit, berbagi gambar/meme (yang diharapkan bisa menjadi viral), share harga promo, membuat serta meramaikan hashtag, dan lain-lain.

Segala konten yang di-share di media sosial oleh penerbit harus melalui konsep dan perencanaan matang, termasuk juga jadwal “terbitnya”. Bukan asal-asalan, ikut-ikutan, dan mendadak. Prosesnya kira-kira sama seperti saat akan menerbitkan buku. Begitu juga pasca-“terbitnya”, harus ada evaluasi seberapa berhasilkah treatment tersebut untuk mendongkrak penjualan. Kalau tidak berhasil, harus dikonsep lagi konten dan prosesnya.

Penulis buku juga perlu aktif di media sosial. Mereka perlu membentuk komunitas, sehingga buku yang dia tulis memiliki pangsa pasar tersendiri. Jika penulis tidak atau belum memiliki media sosial, penerbitlah yang membuatkan media sosial beserta kontennya untuk penulis. Tim media sosial penerbit akan bertindak atas nama penulis di media sosial. Dengan demikian, promosi buku pun relatif bisa lebih mudah dengan memanfaatkan jaringan penulis. Biasanya, akan muncul komunitas “dadakan” yang ujungnya adalah menawarkan buku yang ditulis oleh pendiri komunitas tersebut.

Buku Best Seller Bisa Dikonsep, Bukan Lagi Perjudian

Pada hari kedua, pembicaranya adalah Arys Hilman (direktur Penerbit Republika) dan Jefrey Fernando (direktur Gagasmedia). Keduanya berbicara hal yang sama, yakni promosi buku, baik secara offline maupun secara online (melalui media sosial). Contoh kasus yang mereka presentasikan adalah buku Tentang Kamu (Tere Liye, Republika) dan Koala Kumal (Raditya Dika, Gagasmedia).

Tentang Kamu di hari pertama terbit (27 Oktober 2016) berhasil terjual 40.000 eksemplar (preorder), sedangkan Koala Kumal sejauh ini sudah terjual hingga 250.000 eksemplar. Padahal —sependek pengetahuan saya— secara konten, Koala Kumal adalah buku Raditya Dika yang paling banyak mendapat kritikan dari pembaca. Buku Tentang Kamu, ketika terjual 40.000 eks, pun belum diketahui kualitasnya.

Kedua buku di atas jelas menggambarkan bagaimana pentingnya promosi, khususnya di media sosial. Di media sosial, penulis, editor, dan tim media sosial bekerja sama merumuskan cara mempromosikan buku tersebut. Bahkan, mereka menciptakan hashtag untuk menjadi trending topic. Promosi secara masif juga dilakukan, seperti beriklan via videotron, radio, baliho, meet and greet, mencetak kaos, dan lain-lain.

Memang, treatment untuk setiap buku tidaklah sama. Apalagi yang mereka contohkan adalah buku-buku bertema populer yang ditulis oleh penulis ternama. Beda halnya dengan buku-buku nonfiksi yang cenderung “serius”, tentunya akan susah jika berpromosi dengan cara seperti itu. Namun, intinya, dengan cara promosi dan pemasaran yang tepat, buku akan terjual dengan baik. Bahkan, menurut Polmas Sihombing (Ketua Bidang Pengembangan Buku Pendidikan dan Perguruan Tinggi, Anak, dan Umum— IKAPI Jakarta) buku-buku seperti Laskar Pelangi (yang awalnya diretur oleh toko buku), Koala Kumal, dan Tentang Kamu membuktikan bahwa predikat best seller bukan lagi sebuah perjudian atau misteri, tetapi bisa dikonsep sejak awal, yakni dengan menerapkan strategi promosi dan pemasaran yang tepat.

Apalagi, kecenderungan orang membaca e-book di dunia, menurut data yang disampaikan oleh Arys Hilman, mengalami penurunan. Artinya, ceruk penjualan buku cetak masih sangat besar, asalkan buku tersebut bisa dipasarkan dengan cara yang tepat. Sebagaimana yang dikatakan Pandji Pragiwaksono dalam potongan salah satu bitnya saat Tur Juru Bicara,

“Kotoran kerbau pun akan laku jika dipasarkan dengan benar.”

Published in Bahasa dan Penyuntingan

Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *